Understanding Malay Identity in West Kalimantan and Its Implications for Cross-Cultural Gospel Communication: A Literature Review within the Framework of Critical Contextualization

Penulis

  • Soegianto Soegianto Sekolah Tinggi Teologi Amadeus Surabaya Author

DOI:

https://doi.org/10.53827/lz.v9i2.44

Kata Kunci:

identitas Melayu; kontekstualisasi kritis; komunikasi Injil lintas budaya; Kalimantan Barat; kajian pustaka

Abstrak

Identitas Melayu di Kalimantan Barat tidak dapat dipahami semata-mata sebagai kategori etnis, sebab ia terjalin dengan Islam, adat, bahasa, dan dinamika politik identitas pascareformasi. Bagi misiologi Kristen, kerumitan ini menuntut komunikasi Injil yang tidak bertolak dari asumsi luar atau stereotip. Artikel ini bertujuan memetakan cara literatur ilmiah memaknai identitas Melayu di Kalimantan Barat, menganalisis hubungan identitas itu dengan agama dan praktik budaya, serta merumuskan implikasinya bagi komunikasi Injil lintas budaya. Penelitian memakai metode kajian pustaka kualitatif dengan analisis tematik terhadap sepuluh artikel jurnal dan empat buku, lalu mempertemukan hasilnya dengan kerangka kontekstualisasi kritis Paul G. Hiebert. Hasil kajian menunjukkan tiga hal. Pertama, “Melayu” di Kalimantan Barat bersifat berlapis: terkait erat dengan Islam, dirawat melalui adat dan lembaga budaya, serta dipakai dalam relasi kontras dengan identitas Dayak. Kedua, pustaka membaca perpindahan agama dari Dayak ke Islam sebagai perpindahan identitas sosial (“turun Melayu”), sehingga dapat diajukan proposisi, yang perlu diuji, bahwa perjumpaan Injil dengan komunitas Melayu menyentuh keanggotaan komunitas dan bukan hanya keyakinan pribadi. Ketiga, kontekstualisasi kritis menghasilkan enam prinsip komunikasi Injil: mendengar sebelum berbicara, membedakan identitas dari stereotip, peka terhadap sejarah konflik, membedakan adat secara kritis dan apresiatif, berdialog secara etis, dan menjadikan komunitas iman sebagai komunitas hermeneutis. Artikel ini menyumbang kerangka konseptual yang dapat diuji melalui penelitian lapangan lanjutan.

Referensi

Barth, Fredrik, ed. Ethnic Groups and Boundaries: The Social Organization of Culture Difference. Boston: Little, Brown and Company, 1969.

Bevans, Stephen B. Models of Contextual Theology. Rev. and exp. ed. Maryknoll, NY: Orbis Books, 2002.

Bosch, David J. Transformasi Misi Kristen. Ed. ke-2. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018.

Fitriyanto, Andry, Syukron Wahyudhi, Bibi Suprianto, Lisyati Fatimah, dan Muhammad Akbar. “Reconstructing Adat, Cultural Heritage, and Islamic Identity: The Role of Majelis Adat Budaya Melayu in Pontianak.” Mimbar Agama Budaya 43, no. 1 (2026): 18–31. https://doi.org/10.15408/mimbar.v43i1.49375.

Hiebert, Paul G. “Critical Contextualization.” International Bulletin of Missionary Research 11, no. 3 (1987): 104–12.

Jubba, Hasse, Bibi Suprianto, Zaenuddin Hudi Prasojo, dan Didi Darmadi. “Social Construction of Islamic Local Tradition in Malay Community, Indonesia.” Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies 9, no. 2 (2023): 139–52. https://doi.org/10.30983/islam_realitas.v9i2.7551.

Kristianus. “Nasionalisme Etnik di Kalimantan Barat.” Masyarakat Indonesia 37, no. 2 (2011): 147–76.

Lathifah, Af’idatul. “Turun Melayu: Konstruksi Identitas Orang Dayak Muslim di Desa Kuala Rosan Kalimantan Barat.” Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi 2, no. 1 (2018): 80–87. https://doi.org/10.14710/endogami.2.1.80-87.

Mee, Wendy. “A Traffic in Songket: Translocal Malay Identities in Sambas.” Journal of Southeast Asian Studies 41, no. 2 (2010): 321–39. https://doi.org/10.1017/S002246341000007X.

Siahaan, Christo Antusias Davarto. “Kritik dan Apresiasi terhadap Sinkretisme dalam Kekristenan Indonesia melalui Konsep Pneumatologi Fondasional dan Discernment Amos Yong.” Gema Teologika 11, no. 1 (2026): 29–44. https://doi.org/10.21460/gema.2026.111.1254.

Siahaan, Daniel Syafaat. “Ketika Aku dan Kamu Menjadi Kita: Dialog Misi Penginjilan Kristen dengan Dakwah Islam Menggunakan Pendekatan Teologi Interkultural dalam Konteks Indonesia.” Gema Teologika 2, no. 1 (2017): 41–54. https://doi.org/10.21460/gema.2017.21.280.

Talan, Yesri Esau. “Pendekatan Interkultural sebagai Model Misional: Sebuah Upaya untuk Merekonstruksi Misi di Abad XXI.” Jurnal Teologi 12, no. 2 (2023): 133–52. https://doi.org/10.24071/jt.v12i02.5484.

Tong, Stephen. Dosa dan Kebudayaan. Surabaya: Momentum, 2017.

Whiteman, Darrell L. “Contextualization: The Theory, the Gap, the Challenge.” International Bulletin of Missionary Research 21, no. 1 (1997): 2–7. https://doi.org/10.1177/239693939702100101.

Unduhan

Diterbitkan

2026-08-30

Terbitan

Bagian

Articles

Cara Mengutip

Understanding Malay Identity in West Kalimantan and Its Implications for Cross-Cultural Gospel Communication: A Literature Review within the Framework of Critical Contextualization (S. Soegianto, Penerj.). (2026). Logon Zoes: Jurnal Teologi, Sosial, Dan Budaya, 9(2), 131-141. https://doi.org/10.53827/lz.v9i2.44